Tampilkan postingan dengan label Remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Remaja. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Agustus 2018

“Kunjungan Karang Taruna Dusun Kaligatuk bersama KKN – PPM UGM Sub – unit 4 Srimulyo ke Candi Banyunibo: Tantangan Pelestarian dan Peluang Pemanfaatan Cagar Budaya Setempat”


Oleh: Tim KKN – PPM UGM 2018, Sub – unit 4, Dusun Kaligatuk
Benda/situs cagar budaya merupakan salah satu tinggalan yang dimiliki oleh sebuah komunitas masyarakat. Cagar budaya tidak hanya menceritakan peradaban suatu masyarakat dalam suatu wilayah, tetapi juga perwujudan peradaban umat manusia. Permasalahan pelestarian dan pemanfaatan terhadap situs cagar budaya menjadi pertanyaan yang hingga kini masih menjadi topik dan kemelut dalam menjawab tantangan global yang semakin besar. Keberadaan tinggalan arkeologi baik yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya maupun yang masih sebagai warisan budaya membutuhkan perhatian dari berbagai pihak secara khusus masyarakat, dalam hal ini generasi muda dalam melihat peluang pemanfaatan yang dapat tercipta dan menjawab tantangan pelestarian tinggalan arkeologis kedepannya. Pada dasarnya pelestarian baik terhadap situs maupun khawasan cagar budaya telah diatur dalam UU No.11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya Pasal 1 ayat 22 yaitu upaya dinamis untuk mempertahankan keberadaan Cagar Budaya dan nilainya dengan cara melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkannya.
Melihat Pasal 1 ayat 22 terkait pelestarian cagar budaya yang menyebutkan didalamnya terdapat kata memanfaatkan, pemanfaatan (UU No. 11 Tahun 2010 Pasal 1 ayat 33) adalah pendayagunaan Cagar Budaya untuk kepentingan sebesar – besarnya kesejahteraan rakyat dengan tetap mempertahankan kelestariannya menjadi salah satu cara dalam upaya pelestarian cagar budaya yang saling berkaitan. Pemanfaatan cagar budaya bagi kesejahteraan masyarakat haruslah diiringi dan selaras dengan pelestarian baik situs maupun kawasan cagar budaya secara bijaksanaa sehingga dapat dimanfaatkan dalam waktu yang panjang dan berkelanjutan. Dalam UU No.11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya ditegaskan bahwa Cagar Budaya adalah Benda, Bangunan, Struktur, Situs, dan Kawasan yang memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, agama, dan kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dengan demikian perlulah pengelolaan, pelestarian dan pemanfaatan yang tepat supaya dapat memberi manfaat sebesar-besarnya kepada bangsa Indonesia. pemanfaatan keberadaan baik situs maupun kawasan cagar budaya guna meningkatkan dan mengembangkan beberapa sektor antara lain ekonomi, pariwisata dan pendidikan menjadi tantangan pada saat ini.
Keberadaan generasi muda yang memiliki gagasan, ide yang kreatif dan inovatf dalam menciptakan produk dan sebagainya menjadi bagian penting dalam pelestarian cagar budaya terutama pemanfaatan berbasis tinggalan arkeologis cagar budaya setempat.  Pelestarian cagar budaya adalah kegiatan yang dilakukan secara sadar, terusmenerus, dan terarah guna melindungi benda benda peninggalan yang bernilai sejarah dari kegiatan yang bersifat merusak (Luwistiana, 2009: 11). Tindakan perlindungan ini berusaha untuk menjaga dan mempertahankan keberadaaan cagar budaya, agar dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang. Generasi muda menjadi bagian penting dalam upaya pemanfaatan keberadaan tiinggalan arkeologis cagar budaya.
Memberdayakan masyarakat dalam upaya pelestarian benda cagar budaya adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat yang tinggal di daerah sekitar benda cagar budaya. Dengan kata lain memberdayakan adalah memampukan dan memandirikan masyarakat melalui upaya-upaya pelestarian benda cagar budaya. Di sini titik tolaknya pada pengenalan bahwa setiap manusia, masyarakat memiliki potensi yang dapat dikembangkan sangat penting dalam upaya pelestarian benda cagar budaya ( Wibowo, 2014: 59). Hal ini mengarahkan sebuah upaya pemberdayaan masyarakat dalam pelestarian di mana dalam pemberdayaan mengadung prinsip-prinsip perencanaan seperti pendekatan sistem untuk mengembangkan interaksi sinergis antar komponen, metodologi pengembangan masyarakat dari dalam (development from within) yang niscaya bersifat emansipatoris dan partisipatoris, serta prinsip-prinsip perencanaan secara komprehensif, holistik dan karena itu harus bersifat terbuka (sampai pada tingkat tertentu boleh menjadi rolling plan) dan kontingen konstekstual, perlu diterjemahkan dalam tolok ukur yang terstruktur (Balitbang Depdagri, 1998: 8). Pemberdayaan adalah upaya membangun daya itu dengan mendorong, memotivasi, dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki serta berupaya untuk mengembangkannya. ( ibid. 65 ). Selanjutnya, upaya itu harus diikuti dengan memperkuat potensi dan daya yang dimiliki oleh masyarakat.
Kunjungan yang dilakukan oleh pemuda pemudi Karang Taruna Dusun Kaligatuk pada Minggu, 22 Juli 2018 di situs Cagar Budaya Candi Banyunibo bersama Tim KKN – PPM UGM Sub – unit 4 Dusun Kaligatuk, Srimulyo menjadi salah satu kegiatan pelestarian terhadap situs cagar budaya yang melibatkan peran generasi muda sebagai bagian penting terhadap kelangsungan dan keberlanjutan keberadaan tinggalan arkeologi.


Kegiatan ini tidak hanya sebagai kegiatan kunjungan terhadap situs cagar budaya semata, tetapi juga semakin membuka wawasan dan pengetahuan terhadap peluang pemanfaatan yang dapat dilakukan berbasis tinggalan arkeologis yang hingga kini masih menjadi persoalan besar baik dalam instansi terkait maupun masyarakat luas. Kegiatan pengenalan sebagai upaya awal dalam menggali potensi pemanfaatan situs cagar budaya, menumbuhkan ide, gagasan yang kretaif dan inovatif. Selain itu, dalam kegiatan ini diisi  pula Sosialisasi “Kenali Dirimu Kenali Potensimu” yang disampaikan oleh salah satu mahasiswa KKN – PPM UGM Fakultas Psikologi, Ni Galuh Purwanti. Kegiatan ini menjadi bagian yang tepat dalam menggali dan mengenal diri serta potensi diri yang dimiliki oleh pemuda pemudi Karang Taruna Dusun Kaligatuk. Keberadaan tinggalan cagar budaya di sekitar tempat tinggal dapat dijadikan sebagai inspirasi dalam menggali potensi dan bakat yang dimiliki terkait pemanfaatan cagar budaya sebagai pengembangan di bidang ekonomi, pariwisata dan pendidikan.


Keberadaan tinggalan arkeologi di tengah masyarakat haruslah disadari bahwa cagar budaya maupun warisan budaya adalah miliki seluruh masyarakat, tidak hanya satu instansi terkait. Dengan demikian, sinergi baik antara instansi pemerintah dengan masyarakat secara khusus generasi muda dalam upaya pemanfaatan cagar budaya dan pelestarian yang saling terkait dan berkelanjutan menjadi peluang dan potensi besar yang masih perlu digali lebih dalam guna pengembangan di berbagai sektor khususnya ekonomi, pariwisata dan pendidikan. (Penulis : Yustina D.S., Editor : Muammar K.)

Referensi
Luwistiana, Farida. 2009. Peran Pembelajaran Sejarah dalam Pelestarian Cagar Budaya Sangiran ( Studi Kasus di SMP N 1 Kecamatan Kalijambe Kabupaten Sragen). Tesis. Program Pasca Sarjana. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Balitbang Depdagri. 1998. Pemerintahan Desa.  Laporan Penelitian. Jakarta: Balitbang Depdagri.
Wibowo, Agus Budi. 2014. Strategi Pelestarian Benda/Situs Cagar Budaya Berbasis Masyarakat. Kasus Pelestarian Bneda/ Situs Cagar Budaya Gampong Pande Kecamatan Kutaraja Banda Aceh Provinsi Aceh. Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur. 8 (1). 58 - 71

Share:

Minggu, 05 Agustus 2018

Kenali Dirimu, Kenali Potensimu


Gambar 1. "Kenali Dirimu Kenali Potensimu"

Dusun Kaligatuk, Srimulyo, Piyungan, Bantul adalah dusun dengan jumlah pemuda yang cukup banyak. Banyaknya jumlah pemuda di Dusun Kaligatuk menjadikan dusun ini kaya akan kegiatan-kegiatan yang dikelola oleh pemuda, seperti program remaja masjid, tadarus Al-Quran, perlombaan, dan kegiatan positif lainnya. Namun, disisi lain penulis menjumpai salah satu permasalahan yang terdapat di Dusun Kaligatuk terutama pada pemuda-pemudi, yaitu kurang adanya motivasi untuk mengenyam pendidikan tinggi. Slogan “Carilah ilmu sampai ke Negeri China” sepertinya kurang diresapi oleh pemuda-pemudi di Dusun Kaligatuk, pasalnya di dusun ini hanya beberapa pemuda saja yang mengenyam pendidikan sampai bangku kuliah. Beberapa hal menjadi alasan mengapa pemuda-pemudi hanya menempuh pendidikan sampai bangku SMA/SMK bahkan penulis mendapati ada pemuda yang putus sekolah. Keadaan ekonomi dan “males mikir” menjadi permasalahan utama mengapa pemuda-pemudi di Dusun Kaligatuk enggan untuk melanjutkan pendidikannya. Dalam hal ini, penulis memberikan sosialisasi “Kenali Dirimu, Kenali Potensimu”, yang mengajak pemuda-pemudi untuk dapat mengenali dirinya sehingga mereka mengetahui apa saja potensi yang bisa dikembangkan dan memiliki motivasi untuk mengembangkannya. Selain itu, dalam sosialisasi “Kenali Dirimu, Kenali Potensimu” juga memberikan informasi kepada peserta terkait situs web untuk melakukan tes psikologis, yaitu temubakat.com.

Gambar 2. Pemuda-pemuda Kaligatuk tampak bahagia

Gambar 3. Pemudi Kaligatuk serius mendengarkan
       
     
Sosialisasi “Kenali Dirimu, Kenali Potensimu” diadakan pada hari Minggu, 22 Juli 2018 bersamaan dengan acara “Jalan-jalan Situs” ke Candi Banyunibo yang beralamatkan di Desa Cepit, Bokoharjo, Prambanan, Yogyakarta. Perjalanan dari Dusun Kaligatuk ke Candi Banyunibo tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit saja. Mulanya, pemuda-pemudi dan mahasiswa KKN PPM UGM berkumpul pada jam 8.30 WIB dan sampai di Candi Banyunibo sekitar jam 9.00 WIB. Sosialisasi ini diikuiti oleh sekitar 20 pemuda-pemudi Dusun Kaligatuk dan dilaksanakan selama 60 menit ditambah sesi tanya jawab. Kegiatan diawali dengan jalan-jalan mengelilingi Candi Banyunibo dan sesekali salah satu mahasiswa KKN menjelaskan sejarah terbentuknya Candi Banyunibo. Candi Banyunibo adalah candi Buddha yang dibangun pada abad 19 dan terletak tidak jauh dari Candi Ratu Boko.
Gambar 4. Sosialisasi diiringi canda dan tawa
Setelah selesai berkeliling menikmati candi, salah satu mahasiswa KKN mengkondisikan peserta untuk duduk melingkar untuk mendengarkan sosialisasi. Duduk melingkar menjadi salah satu pilihan karena sosialisasi “Kenali Dirimu, Kenali Potensimu” sengaja di setting agar suasana sosialisasi menjadi santai dan agar peserta tidak canggung. Sosialisasi “Kenali Dirimu, Kenali Potensimu” berisi informasi mengenai bagaimana peserta dapat mengenali diri, mencintai dirinya dan mengembangkan dirinya secara maksimal. Mengenal diri adalah kondisi dimana seseorang dapat mengenali dirinya seutuhnya, termasuk kelebihan dan kekurangannya. Banyak kita jumpai seseorang yang sibuk mempertanyakan bakatnya apa dan mengeluhkan kekurangan yang ada pada dirinya. Padahal, dalam mencari bakat atau potensi, mulanya seseorang tersebut harus memijaki tahap “mengenal diri” secara utuh. Untuk itu, sosialisasi ini diadakan dengan harapan pemuda-pemudi Dusun Kaligatuk dapat mengenali dirinya dan memaksimalkan apa yang mereka punya. (Penulis : Ni Galuh P., Editor : Muammar K. )

Gambar 5. Foto bersama di akhir acara

Share:

Kamis, 02 Agustus 2018

Mahasiswi KKN-PPM UGM 2018 Adakan Diskusi Pemuda Mandiri untuk Remaja Dusun Kaligatuk


Gambar 1. Galuh sedang menjelaskan ke pemuda tentang dunia perkuliahan

Melanjutkan jenjang pendidikan ke perguruan tinggi tempo hari ini menjadi hal yang cukup penting bagi pemuda. Menyadari hal tersebut, Ni Galuh Purwanti, mahasiswi peserta Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat Universitas Gadjah Mada (KKN-PPM UGM), berinisiatif mengadakan forum diskusi pada Senin (30/7) lalu untuk para pemuda Dusun Kaligatuk. Bersama mahasiswa KKN-PPM UGM Subunit Dusun Kaligatuk serta beberapa pemuda dusun tersebut, acara dilangsungkan pukul 20.00 WIB di Masjid Dusun Kaligatuk, Desa Srimulyo, Bantul. Menurut Galuh, pelaksanaan diskusi ini sebetulnya tidak terlepas dari keprihatinannya atas kondisi pemuda Dusun Kaligatuk yang belum banyak berminat melanjutkan studi setelah lulus SMA/SMK. Padahal, Galuh meyakini ada banyak potensi yang dapat dikembangkan bagi remaja dusun tersebut ketika menapaki jenjang perguruan tinggi.

Lebih jauh dalam forum ini, Galuh selaku panitia pelaksana juga bertindak sebagai pembicara. Dalam kesempatannya berbicara, pertama-tama Galuh memaparkan bagaimana urgensi kuliah yang sesungguhnya. Seperti yang dijelaskannya kepada para peserta, menurut Galuh, berkuliah tidak hanya terkait dengan mencari ilmu. “Ada banyak masalah yang sangat kompleks. Kuiiah bukan seperti di sinteron yang hanya berisi pacaran, nongkrong, dan sejenisnya,” ujar mahasiswi jurusan Psikologi ini. Tambahnya, hal inilah yang menyebabkan kuliah menjadi sesuatu yang menantang bagi anak muda.

Gambar 2."Ada banyak masalah yang sangat kompleks. Kuliah bukan seperti di sinetron yang hanya berisi pacaran, nongkrong, dan sejenisnya" -Purwanti, Ni Galuh. 2018

Tetapi di samping mengutarakan motivasi kuliah, Galuh juga memberikan pemaparan tentang jalur masuk perguruan tinggi kepada para pemuda. Setidaknya ada empat jalur masuk yang dapat dipilih siswa-siswi SMA/SMK untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang Sarjana, yaitu melalui SNMPTN, SBMPTN, Ujian Mandiri, serta Jalur Prestasi. Bukan hanya itu saja, demi menarik minat para pemuda untuk berkuliah, Galuh juga memberikan informasi terkait beasiswa yang dapat diperoleh calon mahasiswa baru. Bahkan, ia juga mengundang salah seorang mahasiswa UGM, Benedicta Yuventa Dei, untuk membagikan pengalamannya saat mendapat Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik.

Gambar 3. Venta sedang membagikan pengalamannya mendapat beasiswa

Gambar 4. Beasiswa tidak hanya dari prestasi akademik, banyak juga beasiswa untuk prestasi non-akademik seperti Venta

Selain Galuh, ada pula narasumber lain, yakni Muhammad Hasnan Nahar, yang memberikan arahan soal dunia wirausaha bagi mahasiswa. Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN SUKA) Yogyakarta ini menjelaskan, aktivitas bisnis bukan tidak mungkin dilakukan saat sedang menjalani status sebagai mahasiswa. Lewat pengalaman pribadi yang ia lewati dalam membuka dunia usaha souvenir di akhir masa kuliahnya di tingkat sarjana, Hasnan, panggilannya, memberikan beberapa tips untuk sukses dalam berbisnis, khususnya saat berkuliah. Mulai dari strategi pengembangan jaringan hingga branding. Di akhir diskusinya, Hasnan berharap, agar pemuda Kaligatuk bukan hanya dapat memahami arti penting berkuliah maupun berwirausaha. Namun juga agar para pemuda dapat segera mewujudkan secara nyata kedua hal tersebut dengan niat perubahan yang tertanam dalam pribadi mereka masing-masing. (Penulis : F. E. Satria, Editor : Muammar K. )


Gambar 5. Ni Galuh Purwanti (kiri), Muhammad Hasnan Nahar (tengah), Faudyan Eka Satria (kanan)
Share:

Label

Post Favorit

Peta Administrasi Dusun Kaligatuk 2018

Total Halaman Dibuka